Friday, 20 January 2017

Bali-Lombok: Ketika Aku Hilang dan Menemukan Part 1

Tahun berlalu, hiruk pihuk berganti dengan kesunyian dan berganti lagi dengan keramaian. Berputar terus menerus bersama waktu. Akhirnya, saya memutuskan untuk melengkapi cerita ini dan mempublikasikannya. Ini adalah penebusan atas dosa yang saya lakukan. Dosa karena tidak ijin pada orang tua ataupun keluarga, ataupun organisasi yang saat itu mengamanahkan saya jadi ketua. Bukan ijin, Cuma pemberitahuan. Duh, bocah bandel memang.
Ya, ini kisah perjalanan saya mbolang selama enam hari di Bali dan Lombok. Backpaker lokal ala-ala. Bertanggal 24 Juli 2015- 29 Juli 2015. Kisah nekad saya yang kesekian.
Enam hari di Bali Lombok ngapain? Habis Berapa duit? Perjalanan naik apa? Bagaimana disana? Kemana aja? Dapet pengalaman apa aja?
Dan, beginilah kisahnya.
Day 1
Setelah semalaman ngrepotin Nik sama Aeni karena saya dan partner in crime saya (baca. Diah) nginep di kos mereka, paginya mereka kami repotan untuk mengantar kami ke bandara. Pagi buta!
Tentu saja jalanan lenggang. Dingin-dingin semribit, tapi, tunggu. Kapan lagi bisa kebut-kebutan di jalanan Jogja yang akhir-akhir ini mulai memadat. Dan, benar saja. Gas sepeda motor mulai ditarik, dan mulai melaju dengan kekuatan hampir penuh. Tak heranlah, kami sampai kurang dari setengah jam. Dari jalan Kaliurang km 8 hingga jalan solo km 9, atau bandara Adi Sucipto Yogyakarta yang berjarak 13 km.
Setelah cipika cipiki, saya dan Diah segera menuju bagian keberangkatan. Setelah cek in, kami segera ke mushola bandara. Iya, tadi kebut-kebutannya kita belum Sholat Subuh. Alhamdulillahnya selamat.
Saya ngga perlu ngurusin koper ke bagasi deelel karena memang ngga bawa. Jadi bawaan saya itu hanya backpack ukuran 20 liter yang biasanya dipake buat sekolah atau kuliah. Bukan untuk jalan-jalan. Isinya cuma 3 baju, 3 rok, 3 jilbab dan pernak pernik, kaos kaki agak banyak, alat mandi (yang cuma sabun cair, sikat, odol sama face wash), obat-obatan, charger hp, dompet kecil, buku, pulpen dan alat make up yang hanya lipgloss dan lotion. That simple. Lebih sedikit daripada bawaan kalau mau naik gunung yang cuma sehari semalem. Karena apa? Karena perjalanan kali ini insyaAllah tidak akan jauh dari peradaban.
Dan, setelah beberapa lama menunggu, Ini dia! Saya akhirya menginjakan kaki pertama kali di pesawat ‘beneran’. Norak? Ngga ko. Saya ngga foto-foto selfie dulu di deket pesawat atau jejingkrakan. Kalem aja. Alasannya, besok-besok juga mau naik lagi. Sering. Ngapain selfie (ini doa). Lagipula, naik maskapai pesawat yang tingkat kecelakaannya tinggi. Duh, mau bangga gimana coba. Alhamdulillahnya sih, ngga menggigil ketakutan, parno dst. Berasa udah biasa aja naik pesawat. Pas mau take off juga biasa aja. Mungkin ini efek keseringan naik komidi putar pas kecil. Jadi, pengalaman naik pesawat pertaa kali itu, biasa.

Dua jam kemudian, saya sudah berpindah pulau. Bali!!!
Selamat datang di Bali. Pic by Diah.


Iya, ini pertama kalinya juga saya ke Bali, plesiran. Dulu SMA ngga ada studytour ke Bali. Padahal angkatan sebelumnya dan sesudah ada studytour ke Bali. Kenapa angkatan saya ngga ada? Entahlah, saya sudah lupa. Jadi memang exited juga untuk menjelajah Bali. Apalagi kita akan menjelajah Bali dengan motor!
Setelah keluar dari pesawat, handpone pintar nan tangguh langsung saya aktifkan, segera menghubungi Mas Bayu, pemilik rental motor yang nomornya saya dapat di internet.
Dengan berbagai pilihan rental motor di Bali entah kenapa saya mantap dengan sewa motor Mas Bayu. Setelah bertemu dengan orangnya, istrinya dan anaknya, hati saya bergumam, ini takdirnya Allah. Seneng juga, ketemu Mas Bayu dan keluarganya yang muslim ditengah-tengah masyarakat non muslim.
Sewa motor sama Mas Bayu itu Rp 50.000/hari/24jam. Bisa serah terima langsung di parkiran bandara. Kami dapat motor Next tahun 2014, warna hijau, include helm 2 buah, stnk, mantol/jas hujan. Ada beberapa motor yang lain. Yah, meski biasanya saya naik motor ‘gigi’, mengingat ini perjalanan jauh, motor matic jadi pilihan. Syarat sewa gampang banget, cuma KTP saya di foto. Mas Bayu pokoknya sudah tsiqoh sekali sama pelanggannya. Yang mungkin mau ke Bali dan mau nyewa motor, bisa hubungi Mas Bayu (087860985449)
Motor sudah dikendarai. Selanjutnya, kita kemana?
Sebuah tugu di tengah jalanan Bali.
Tebakan, namanya apa?


Entah karena males, atau emang males, kami berdua belum booking penginapan. Mottonya, ntar lihat di lapangan aja. Jadi, setelah keluar dari bandara, kami ngga tahu harus kemana. Apalagi saya yang buta Bali. Orang belum pernah ke Bali. Diah juga sepertinya. Sepertinya bingung, padahal dia udah sering ke Bali. Aduh. Jadilah kami mbolang beneran. Cuma ngikutin petunjuk jalan yang ngga jelas tanpa arah tujuan yang pasti. Setelah sedikit berdiskusi, dan bertanya teman sana sini, akhirnya diputuskan kami menuju Pantai Kuta. Denger-denger disana banyak penginapan backpaker murah.
Sampai di Pantai Kuta, benar, banyak penginapan. Tapi yang murah yang mana? Ditengah kebingungan nyari penginapan murah, perut yang memang belum diisi sedikitpun mulai protes. Masalah selanjutnya, dimana nyari tempat makan halal? Scara, kita di Bali dan kita berdua muslim. Akhirnya, setelah mlipir sana sini, nemu juga rumah makan Padang! InsyaAllah halal. Tenyata, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Setelah perut kenyang, kami juga dapat informasi penginapan murah dari mas-mas yang jaga rumah makan Padang tadi. Memang ya, tanya sama penduduk lokal itu, the best. Kami segera meluncur ke lokasi penginapan yang Cuma beda satu blok sama rumah makan padang.
Penginapan itu bernama Losmen Arthawan di jalan pompies II. Kalau mau di cari di Google Map, ada. Kami dapat kamar, dua bed dengan sewa Rp.100.000/24 jam/jam cek in sampai jam 12 siang (cek out). Kamarnya biasa kamar kos-kosan Jogja tingkat menengah, ada kamar mandi dalem, ada lemari, ada handuk bersih. Yang paling penting sih ada colokan. Scara, HP yang tangguh sudah mulai kehabisan energi setelah sepagian buat browsing ini itu.
Setelah sholat Dzuhur dan Asar yang dijamak, dengan permasalahn klasik menentukan arah kiblat, kami putuskan untuk istirahat sejenak sebelum keliling (sebagian) Bali. Saya ambil note kecil bergambar One Piece untuk membuat itinerary sederhana. Iyah, kita baru bikin itin pas udah sampai di tempat tujuan. Kan, mottonya lihat aja ntar dilapangan. Ini sungguh jangan diikuti kalau kamu pengen liburan dan perjalanana kamu terjadwal, tertata dan terencana. Tapi karena kami berdua orangnya sama, ngga punya planing dan males bikin planing akhirnya ya begini.
Setelah browsing-browsing, liat apa yang agak aneh di Bali akhirnya diambil beberapa keputusan. Sore nanti kita akan pergi kearah Utara. Tujuannya belum tahu. Pokoknya ke arah Utara. Entah nanti ada apa.
Sejenaknya itu ternyata dua jam lebih. Pukul 14.30 WITA kami baru tersadar tujuan kami ke Bali itu bukan pindah tidur. Kadang saya kalo jalan-jalan gini bingung sendiri, tujuannya itu pindah tidur atau eksplore tempa baru sih. Bagi saya, tidur itu adalah sosok yang sulit sekali dikalahkan. Dimanapun berada.
Kami membelah jalanan Bali yang nampak asing. Tentu saja berbekal aplikasi map di handpone pintar.
Bali itu, jalanannya lebih unggul daripada Jawa Tengah dan Jawa Timur. Aspalnya sudah bagus. Ngga ngenjal-grenjul dan bolong-bolong. Meski tetap masih khas Indonesia. Kalau pemakainya, baik pengendara sepeda motor maupun mobil, masih kalah sama DIY soal ketertibannya. Tapi sudah mendinglah. Selama perjalanan sore itu saya ngga menemukan macet berkepanjangan.
Saya dan Diah sempat berganti mengendarai. Dia di depan, menjadi sopir dan saya bertugas sebagai penunjuk arah. Tapi, baru beberapa kilo, saya menyerah. Saya masih mau jalan-jalan ke Lombok dan naik pesawat lagi, dan yang terpenting, saya masih ingin menikah sebelum kenapa-kenapa. Saya lalu ‘merebut’ kemudi.
Lewat pedesaan di Bali itu tentu nuansanya berbeda dengan di Jawa. Setiap rumah, bukan gapura 17an tapi gapura selayaknya gapura candi. Eksotik gitu ukirannya. Belum lagi wangi kembang dan dupa dimana-mana. Mrinding-merinding sedap. Tapi jadi inget jalanan disekitar pasar kranggan. Duh, Jogja lagi. Kelamaan di Jogja nih kayaknya. Sawah di Bali juga berbeda, meski ngga beda-beda jauh. Tapi karena saya berasal dari desa yang 10 meter dari rumah itu sawah, jadi tidak terlalu perhatian dengan sawah-sawah disana dengan sistem subaknya. Satu lagi, kayaknya di Bali semua rumah punya pohon bunga frangipani.
Ada yang mau kenalan?
Setelah menempuh perjalanan hampir 35 km akhirnya kami sampai di Monkey Forestnya Bali. Duh, jauh-jauh ke Bali cuma mau liat monyet? Habisnya kami sudah bingung mau kemana lagi. Keburu sore. Ini nih, akibat ngga punya rencana sebelum-sebelumnya. Tapi ini menariknya, kami ngga punya ekspetasi apa-apa, jadi ngga kecewa.


Diah in action. Beruntung,
jembatannya belum ditambahin
atribut alay. Semoga saja tidak pernah!
Monkey Forest, seperti namanya, isinya ya hutan dan kera. Keranya banyaakk. Beneran banyak. Kita bisa langsung interaksi juga sama mereka. Mau elus-elus mereka bisa, tapi hati-hati, bisa-bisa dielus-elus mereka terlebih dahulu, alias dicakar. Biasa, monyet kan agresif. Loncat sini loncat sana. Yang menarik itu ketika ada petugas yang bawa makan sore banyak. Semua kera ngumpul. Mulai dari yang simbah-simbah kera, sampai yang bayi masih nyusu sama ibunya. Ngumpul semua. Rebutan makanan sampai berbagi makanan. Dan yang iconik dari Monkey Forest di Bali itu, ya tentu saja, bayak sekali pura nya. Setiap sudut selalu aja ada. Jadi bener-bener Bali deh. Meski di dalam hutan sekalipun.

Setelah puas menjadikan monyet sebagai objek foto, kami berjalan kaki dijalanan sekitar area hutan. Jalan sekitar dua meter itu cukup ramai. Kanan kiri jalan merderet pertokoan modern. Baju-baju ataupun berbagai pernak-pernik dipajang di etalase kaca. Mungkin pasar mereka adalah orang-orang menengah diatas. Bisa dilihat sih, mayoritas turis di Monkey Forest ini adalah turis asing. 
Jalanan di dekat Monkey Forest

Puas berjalan dan melihat-lihat, kami memutuskan kembali kepenginapan. Senja yang jingga sudah mulai berganti warna menjadi gelap. Kami kembali menyusuri jalanan yang asing tapi menyenangkan. Sebelum sampai ke penginapan kami memutuskan untuk mampir makan, dan saya ingat, diperjalanan berangkat saya melihat sebuah rumah makan yang tidak asing dan pasti halalnya. Tepat di jalan Tukad Barito Timur No. 33 saya membelokan kemudi.
Pelayan Warung Spesial Sambal dengan rompinya yang berwarna merah menyambut saya.
Apppppppaaaa??? Jauh-jauh ke Bali makannya di SS? Kayak di Jogja ngga pernah aja. Yah, daripada susah-susah nyari makanan halal dan tempat sholat. Dan, semoga saja harganya semurah di Jogja. Tapi ternyata harga sudah disesuaikan dengan standar hidup di Bali. Tapi masih terjangkau kok sama dompet bakcpaker kere macam saya.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Hari sudah benar-benar gelap, dan kami lupa jalan pulang!!!

Akhirnya dan akhirnya kami kesasar. Belum lagi GPS handphone yang kayaknya tidak mau bekerja sama. Tapi kami tetap optimis. Kami pasti sampai. Alhamdulillah, benar juga. Kuta Bali itu ternyata cukup mudah ditemukan. Tidak salah jika mencari penginapan disini (menghibur diri). Pukul 19.00 WITA kami sudah kembali ke penginapan. 
Numpang Foto dulu ya, Hard Rock Hotel.
Nginepnya ngga tau kapan.

Setelah rehat sejenak (ini benar-benar sejenak), kami memutuskan menikmati malam Kuta. Kami keluar penginapan dan berjalan kaki kearah pantai. Mampir ke toko pinggir jalan dan beli sendal jepit KW tapi harganya ngga KW, foto-foto di icon HardRock Kafe, trus lanjut ke Matahari mall belanja perlengkapannya Diah. 
Suasan Pantai Kuta malam hari,
sendu-sendu gimana gitu.
Selanjutnya kami menuju pantai. Gelap dan sunyi. Tidak ada lampu yang terang benderang. Hanya ada kelip lampu dari kejauhan. Hanya ada beberapa orang yang terduduk di pasir. Mendengar deburan ombak atau memandang langit. Dilangit, rembulan menggantung hampir sempurna, dan laut menjadi refleksi yang aneh. Tak terlalu sempurna indah namun menghasilkan gambaran magis.
Pantai di malam hari memang selalu menarik. Sayangnya bintang tak ikut menyemarakan malam itu. Terhalang awan-awan.
Setelah puas melihat kehidupan malam yang belum malam-malam banget, kami memutuskan pulang. Saya yang kebiasaan punya jam malam jam 9 dan sering berusaha patuh, berada di luar rumah lebih dari jam segitu agak tidak nyaman juga. Pukul 10 lewat sedikit kami sudah kembali ke penginapan. Membersihkan diri dan tidur. Besok masih ada hari yang harus di sambut dan tempat-tempat yang harus di jelajahi.
Besok, akan ada Bali selatan dan menyebrang Selat Bali-Lombok. Masih dengan motor!

To Be Continue...
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 13 April 2016

Piknik Naik Motor


Sejujurnya saya bukan anak motor. Saya anak mama dan bapak saya. Namun entah kenapa saya lebih menyukai piknik naik motor dibanding moda transportasi lain. Alasannya? Ngga tau. Beneran ngga tau. Asik aja kemana-mana naik motor. Apalagi jadi supirnya alias bukan orang yang duduk di kursi penumpang. Bukan juga ngojek.
Beberapa tempat yang suda saya ‘pikniki’ dengan motor misalnya Bromo, Kawah Ijen, Bali, Lombok, Kawah Putih, Sabana Baluran dan sekitarnya,  dan tentu saja, spot-spot piknik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ya, belum terlalu banyak sih. Pengennya juga lintas Sumatera pake motor. Tapi belum kesampean. Alasannya? Belum lulus...T.T
Daaann...pengalaman luar biasa. Meski saya perempuan (asli loh), dan perginya seringnya juga sama perempuan, Alhamdulillah sejauh ini belum menjumpai yang namanya tindakan kriminalitas dijalanan. Semoga jangan pernah. Amiin. Pengalaman buruk tentu ada. Misalnya dari pelabuhan Padang Bai di Bali sampai Kuta hujan-hujananan. Atau ban gembos saat ke Bromo dan tidak ada tukang tambal ban sama sekali. Padahal jalannya nanjak. Itu tentu menjadi bumbu yang luar biasa menggurihkan perjalanan. Ingin mencoba piknik naik motor? Tunggu dulu...
Meski sejauh ini saya aman-aman saja piknik dengan motor, namun ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan sebelum menstater motor kamu.
1.      Miliki surat-surat motor dan tentu saja sim C
Pastikan kamu sudah punya SIM C. *dan pastikan juga bukan hasil nembak..hahaha. Meski terkesan formalitas saja dan hanya berlaku ketika ada pemeriksaan polisi, namun kamu ngga akan mau kan liburan kamu terganggu karena masalah tilang. Jika dekat mungkin bisa diurus, namun jika jauh? Mau nyogok oknum polisi? Jangan dehh...kamu benci korupsi namun jadi pegiat korupsi? Piknik kamu bakalan ngga asik. Bener deh..
Dan jika kamu sudah punya sim C otomatis kamu sudah berada di atas usia 17 tahun. Kenapa? Karena mayoritas kecelakaan terjadi pada pengendara motor di bawah 17 tahun. Datanya? Cari ndiri ya..:P
2.      Punya sejarah mengemudikan motor yang panjang.
Kamu baru bisa naik motor kemarin sore? Urungkan niatmu piknik pake motor. Piknik naik motor itu butuh skill yang tinggi men. *ceileh. Beneran loh. Karena kamu akan melintasi jalanan yang mungkin tidak kamau kenal sebelumnya. Bagaimana kondisinya, bagaimana keamanannya, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Paling tidak jika kamu sudah terbiasa naik motor, kamu akan memiliki keahlian di bawah kesadaran apabila menghadapi situasi yang tidak diinginkan. Mungkin semacam insting ya..:D
3.      Periksa Kondisi Motor
Piknik naik motor itu berbahaya! Coba cek kecelakaan terbesar itu di bagian moda apa. Jawabannya motor. Kenapa? Ya, lihat saja motor. Rodanya cuma dua (apapula ini), keseimbangannya pinter-pinteran pengemudi. Belum lagi banyak pengendara motor yang mentang-mentang bisa selip sana selip sini, jadi asal-asalan naiknya. Dan yang paling sering jadi faktor utama kecelakaan adalah kondisi motor yang ngga fit. Ban gundul, rem mati, rante kendor, dll. Kalau kondisi motor ngga prima, maka mengendarainya pun jadi ngga asik.  
4.      Periksa Kondisi Tubuh
Ini nih.. Piknik naik motor itu perlu kondisi tubuh yang prima juga. Jika naik bus, kita bisa duduk leha-leha, cape, tinggal urut-urut pake balsem, kalau ngantuk tinggal tidur. Percaya saja sama sopir. Namun jika naik motor, mau ngantuk, mau cape, mau bosen, mau males, kamu ngga bisa ngapa-ngapain karena kamulah sopirnya. Pilihan satu-satunya adalah kamu harus berhenti dan istirahat. Otomatis perjalanan tertunda.
Ingat, jangan paksakan tubuh untuk mengemudi jika sudah cape dan ngantuk.
5.      Gunakan perlengkapan yang memadai
Presensi dulu ya... Helm SNI? Sepatu dan seperangkatnya? Jaket? Sarung Tangan? Masker/penutup wajah? Baju yang nyaman? Rok yang ngga nylimped di roda (bagi pengguna rok seperti saya)? Barang-barang bawaan yang tidak melebihi besarnya motor? Kacamata jika diperlukan? Jika minimal semua itu dipenuhi, yuk berangkat. Namun lebih bagus lagi jika menggunakan perlengkapan berkendara sepeda motor yang lengkap misal pelindung tulang kering kaki, jaket kulit, dll.
6.      Sadari Resiko Piknik Naik Motor
Perlu banget deh kamu sadar. :D
Piknik naik motor itu, rawan kena hujan. Jadi siapkan mantol. Piknik naik motor itu rawan motornya bermasalah dijalan, jadi tabahkan hati dan kuatkan kaki ketika harus nuntun motor. Piknik naik motor itu rawan kecelakaan, jadi berhati-hatilah. Mawas diri, kontrol emosi,. Piknik naik motor itu, ketika piknik berakhir badan kamu bisa pegel-pegel, jadi siapkan waktu untuk pija atau istirahat ekstra..:D
Dan...masih banyak lagi resikonya. Pahami ya gaes...
7.      Jangan Lupa Banyak-Banyak Berdoa
Tidak ada penjelasan..:D


Itu saja sih pesan dari saya yang bukan anak motor tapi sering piknik naik motor. Semoga bermanfaat...
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Monday, 31 August 2015

Keliling Indonesia


Saya bukan orang kaya. Saya hanya mahasiswa semester akhir yang luntang-lantung di kampus, ditinggalkan teman-teman satu angkatan meniti karier. Belum bekerja dan penghasilan ala kadarnya. Yah, namanya juga belum sarjana. Ijasah belum dipunya. Kerja seadanya. Mulai dari mengajar privat, mengisi training, bantu-bantu desain, sampai jaga kios. Apa saja, yang penting halal dan bisa menghasilkan uang. Tidak banyak tentunya.
Jika berkata masa depan, saya pun bisa dibilang bukan pemilik masa depan yang ‘cerah’. Lulusan jurusan pendidikan, jatuh akhir jadi guru. Beruntung jika sudah jadi buruhnya negara. Gajinya, ya tergantung negara. Jika negara kaya bisa saja gaji guru melambung mengangkasa. Tapi kalau negara miskin, tak pelak lah, guru pun miskin.
Tapi hal itu tentu saja bukan alasan yang menghalangi saya bermimpi mengelilingi dunia. Makanya, dari sekarang saya memulainya.
Dengan modal seadanya, tentu amat jauh dari mengelilingi dunia. Jadi saya putuskan kenapa tak kelilingi Indonesia saja. Toh Indonesia juga kaya panorama. Mulai dari pantai-pantainya yang beraneka rupa. Mulai pasir putih hingga tebing curam. Dari yang terkenal sampai tak pernah ada dengar. Yang kaya terumbu karang hingga yang gundul tanpa ikan. Semuanya ada. Belum lagi hutan-hutannya, air terjunnya, matahari terbenamnya, kota-kotanya, gunungnya, dan yang paling menyenangkan berburu kulinernya.
Ya, langkah pertama saya mewujudkan mimpi mengelilingi dunia adalah mengelilingi Indonesia. Hendak ikut? Saya akan memulai petualangan saya..



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 19 August 2015

Kenapa Kamu Suka Travelling?

“Kenapa suka travelling?”
“Menurutmu kenapa?”

Ah, bukankah mencintai tak perlu alasan. Saya mencintai travelling karena itu adalah travelling. Yah, memang sebenarnya belum layak disebut cinta sih. Jam terbang travelling saya masih seujung debu. Itu pun masih jarak dekat. Masih di satu negara pula. Tapi, bolehlah saya menyebutnya sebagai langah kecil menuju langkah-langkah besar selanjutnya?

Umur saya 24 sekarang. Bisa dibilang sedikit terlambat untuk memulai. Namun, siapa yang perduli. Jika Tuhan berkenan, ia bisa memberi saya 100 tahun lagi, terlebih jika Ia mengijinkan saya untuk mengelilingi bumiNya.

Iya, itu mimpi saya. Sedikit tidak realistis sebenarnya mengingat darimana saya berasal, dan latar belakang keluarga. Tapi, sekali lagi, siapa peduli. Tuhan punya kehendak yang beragam.
So, kita lihat saja, akan sampai dimana saya..




Share This:   FacebookTwitterGoogle+
Copyright © Kemana-mana Yuk! | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com